Kuliah dan Kerja…
Ada seorang kawan yang pernah bercerita dan berdiskusi dengan saya, mengenai kuliah dan kerja. Perlu diketahui sebelumnya, saya dan kawan saya tersebut sekarang masih sama-sama kuliah semester pertama. Sebelum berdiskusi, dia bercerita kepada saya tentang kondisinya terlebih dahulu. Mungkin ini cerita yang menarik bagi kita-kita yang masih kuliah dan punya keinginan untuk bisa mempunyai penghasilan sendiri. Kata orang, persaingan dunia kerja tidak hanya terjadi setelah para mahasiswa lulus dari kuliahnya, namun sejak ia mulai kuliah! ![]()
Begini ceritanya. Dia baru-baru ini mencoba mencari sebuah penghasilan sendiri. Dia ingin menyeriusi hobi yang ia tekuni selama ini, sehingga menjadi hal yang bermanfaat dan berpenghasilan. Tapi bukan hanya keinginan akan menyeriusi hobi, namun juga keinginan-keinginan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Dia kemudian mencoba mencari sebuah ‘lowongan pekerjaan’ yang sesuai dengan hobinya itu tadi, sampai akhirnya bertemu dengan sebuah perusahaan yang sedang berkembang di kota Jogja (namun sudah dikenal cukup luas di nasional). Dengan modal nekat dan keinginan awal yang kuat, dia mengirimkan CV (Curicullum Vitae) alias data diri dan karya-karya yang pernah dibuatnya ke perusahaan tersebut. Sampai akhirnya ditentukan jadwal tes interview (wawancara) langsung di perusahaan tersebut. Di presentasi tersebut kawan saya bisa dengan lancar menjawab pertanyaan dari pewawancara. Di akhir tes interview, kawan saya tersebut kemudian gantian dijelaskan bagaimana sistem bekerja di perusahaan tersebut, tentang profesionalitas, jam kerja, gaji, kontrak kerja, dsb. Sampai saat itu, kawan saya tersebut masih yakin bisa bekerja dengan baik di perusahaan tersebut. Sampai akhirnya, singkat cerita, beberapa hari setelah tes interview tersebut, kawan saya tersebut dihubungi oleh perusahaan tadi, dan dinyatakan diterima untuk bekerja di sana. ![]()
Namun bukannya gembira, justru muncul keraguan di dalam hati kawan saya tersebut. “Saya ambil atau tidak ya?” katanya. Kawan saya ketika bercerita kepada saya, bertanya pada saya,
“Coba bayangkan kamu sudah diterima di sebuah perusahaan, dan gaji perbulannya minimal dapat 1 – 2 juta rupiah. Kamu terima gak? Namun kamu harus kerja sehari sembilan jam di kantor. Padahal kamu masih kuliah tiap hari 2-4 jam. Kalau mau kerja setelah kuliah, berarti kamu pulang ke rumah sekitar jam 7-8 malam. Walaupun bisa sih kita kerja di hari Sabtu (di perusahaan tersebut, hari kerja hanya hari Senin – Jumat) untuk mengganti jam-jam di hari lain. Gimana?”
Sungguh pertanyaan yang sulit bagi saya (padahal posisi saya pun hanya sebagai pendengar). Sudah dinyatakan diterima bekerja. Padahal katanya cari pekerjaan setelah lulus kuliah pun susahnya minta ampun. Penghasilan yang cukup gedhe. Di saat mahasiswa lain sedang kuliah doang (dan lulus kuliah pun mereka belum tentu dapat pekerjaan pasti), kawan saya ini sudah punya penghasilan yang cukup. Ketika kita sekarang bisanya hanya merepotkan (baca: menghabiskan) uang orangtua kita, kawan saya ini sudah akan bisa hidup tanpa merepotkan orangtuanya. Dan bisa dipastikan ia sudah akan bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang ia inginkan tadi.
Keraguan apa yang muncul di hati kawan saya tersebut? Yaitu keinginan akan kebebasan, dan tentunya nasib kuliahnya. Tidak seperti dulu ketika ia di organisasi SMA-nya, yang ditanya “bagaimana bagi waktunya?”, “bisa kerja profesional atau tidak?”, dsb – ia masih bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tapi untuk kali ini, dia tidak bisa menjawab dengan pasti.
Kawan saya tersebut memang dilihat dari kesibukannya, dia memang sejak awal sudah memilih untuk tidak mengikuti kegiatan/organisasi apapun di kampusnya, sehingga sampai saat ini pun dia hanya kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Sesampai di rumah, ia pun hanya menghabiskan waktunya dengan menjalani hobinya itu tadi.
Dia harus memberi keputusan secepatnya. Segera akan ditandatangani perjanjian kontrak kerja, dan sekaligus mulai bekerja… ![]()
Kuliah dan Kerja?
Mungkin saya tidak bisa menulis banyak tentang hal ini, karena saya sendiri belum pernah mengalaminya. Saya hanya bisa menceritakan berdasarkan pengalaman orang lain saja.
Kembali ke pertanyaan “Kuliah dan Kerja?” tadi. Sebenarnya, “Seberapa pentingkah kuliah?” atau “Seberapa pentingkah kerja?”, menjadi pertanyaan yang perlu dijawab sebelumnya. Mungkin ada yang menjawab dua-duanya penting. Sehingga akhirnya dua hal tadi dikerjakan bersamaan. Namun karena sampai saat ini ‘kuliah’ mempunyai prioritas utama, membuat ‘kerja’ menjadi nomor dua, alias kerja sambilan. Sambil kuliah tentunya.
Banyak mahasiswa yang katanya lebih banyak waktu luangya, banyak nganggurnya, sehingga apabila tidak ada aktifitas lain, waktunya akan terbuang percuma. Berorganisasi? Jelas banyak manfaatnya. Tapi bagi sebagian mahasiswa/orang, berorganisasi hanya merepotkan saja, bahkan mungkin bisa menghabiskan uang. “Gak dapet duit, sering malah tekor.” -tapi bagi saya pribadi, berorganisasi tetaplah penting dan sangat bermanfaat lho.
Bekerja sambil kuliah, bagi orang-orang tertentu, mungkin bisa lancar dan membagi waktu dengan baik. Tapi bagi yang kurang bisa memanejemennya dengan baik, justru bisa ‘membunuhnya’. Resiko (tantangan) yang ada cukup besar, seperti: susah bagi waktu, sering telat kuliah, sering bolos kuliah, tidak lulus ujian, lama lulusnya, atau malah mungkin sampai DO (drop out). Pekerjaanya pun tidak bisa maksimal, karena waktunya pun terbagi-bagi. Saya punya banyak cerita tentang hal ini, apalagi karena bapak saya seorang dosen di sebuah universitas negeri. Tapi sekali lagi, banyak juga yang sukses menjalani kehidupan sibuk seperti itu lho. ![]()
Dalam kasus kawan saya tadi, kebimbangannya muncul setelah diberitahu tentang sistem kerja di perusahaan tersebut, dan kontrak kerjanya. Bukannya dia tidak setuju dengan kontrak kerja tersebut, tapi masalahnya ada pada nasib kuliahnya, dan waktu bebasnya. Sebagai mahasiswa baru, pastilah masih sangat ingin kuliah, dan waktunya ingin dijalani dengan bebas. Memang secara matematis bisa saja dia kuliah sambil bekerja, yaitu dengan cara setelah kuliah, dia harus menyusul bekerja di perusahaan tersebut, dan pulang jam 5-6 sore setiap hari. Dia masih punya waktu cukup di rumah pada malam harinya.
Kelelahan? pasti, tapi kawan saya tersebut sudah siap menjalaninya. Namun berarti ia sudah tidak akan bisa bebas lagi, dan terikat secara profesional (kontrak kerja, jam kerja, gaji, sanksi, bahkan PHK juga). Padahal kawan saya tersebut sebenarnya adalah orang yang cukup seneng dolan dengan teman-temannya. Dia pun masih bimbang karena belum tahu pasti kondisi kuliahnya pada semester-semester berikutnya.
Butuh Banyak Pertimbangan
Bila kita berbicara tentang pekerjaan, pekerjaan itu banyak bentuknya. Kerja yang utama (pada kasus kawan saya tadi misalnya), dan kerja sambilan (paruh waktu/part time). Sistem kerjanya pun bermacam-macam. Ada yang terikat sekali dan ada yang sifatnya masih bebas. Yang terikat adalah bila kita bekerja di usaha-usaha/perusahaan yang profesional dan cukup besar. Sedangkan masih bebas (bebas disini berarti, waktu-waktu kerja tidak ditentukan, asal yang penting selesai), biasanya usaha/kegiatan tersebut masih berskala kecil. Mereka hanya yang penting bisa mengisi waktu dengan bekerja. Penghasilan yang didapat seadanya, tidak seperti pada usaha-usaha bersakala besar.
Di situlah kita harus memikirkannya terlebih dahulu, sebelum akhirnya mulai memutuskan bekerja atau tidak, atau ketika akan memutuskan bentuk pekerjaan yang akan dipilih. Segala ilmu kita tentang manajemen prioritas, waktu, kedisplinan, keinginan, dsb diuji di sini. ![]()
Mahasiswa semester akhir tentunya punya jawaban yang berbeda dengan mahasiswa yang masih di tengah-tengah masa kuliahnya (semester 4-5), dan juga berbeda lagi dengan mahasiswa semester awal.
Masing-masing pasti mempunyai harapan, keinginan, cita-cita. Dan diapun harus melihat idealisme dan realita dirinya di lapangan. Apakah kita sudah harus bekerja? Apakah kita harus kuliah? Apakah kita
siap disibukkan dengan kuliah maupun kerja? Apakah kita siap tidak bebas lagi? ![]()
Akhirnya…
Terlalu senang pada kerja, bisa membuat kuliah terlantar. Namun terlalu senang kuliah saja, tanpa memikirkan masa depannya yang lain (misal: bekerja, berorganisasi), juga tidak baik.
Untuk bisa sukses, tidaklah harus jadi sarjana. Ada sebuah acara pendidikan di TVRI yang diisi oleh walikota, dinas pendidikan, dsb, menyatakan jumlah sarjana yang menganggur, lebih banyak daripada jumlah lulusan SMK/STM yang menganggur. Kuliah juga tidak menjamin bisa sukses hidup.
Namun bagi orang-orang yang diberi kemudahan untuk bisa kuliah dan memang sebaiknya dia kuliah, tetaplah kuliah menjadi sesuatu yang penting.
Bekerja itu perlu, tapi jangan lupa kuliah. Kuliah itu perlu, tapi jangan lupa memikirkan yang lainnya (bekerja dan berorganisasi). Dan yang paling penting, restu orangtua… ![]()
wah salut gw,am cerita lu?
ky’na itu lu sendiri deh bkn tmn lu he…he…Brcnd2
Hidup memang pilihan?
contoh
1. pilih kuliah sambil kerja
2. pilih kuliah tdk kerja
ternyata tidak cuma ad 2 (dua) pilihan di atas,msh ad 2(dua) pilihan lg :
3. pilih kerja sambil kuliah
4. pilih kerja tdk kuliah
tp jgn pilih slh satu dr 4 pilihan :
pilihlah 3 dari 4 pilihan di atas